Foto bawah air pakai HP mahal, rugi

Foto di bawah air menggunakan Samsung Galaxy S7 Edge © Ulwan Fakhri
Sepanjang hidup saya yang masih relatif singkat ini, saya sebenarnya jarang sekali memiliki dan/atau menggunakan ponsel flagship. Alasannya sederhana: kurang mampu secara finansial.

Maka dari itu, sekalinya saya pegang Samsung Galaxy S7 Edge, hati sering tidak tenang. Rasanya, tanggung jawab untuk menjaganya besar sekali.

Bagaimana kalau nanti ada fungsi yang rusak seperti BenQ-Siemens EF51 saya? Atau bodinya cacat layaknya ponsel flip Samsung CDMA merah marun yang gahar itu?

Atau malah menghambat rezeki berupa pacar seperti Nokia 6610 saya dulu yang entah mengapa tidak bisa dipasangi aplikasi Mxit, sehingga saya kesusahan cari pacar saat SMA?

Beban masa lalu inilah yang membuat saya sempat ragu untuk mencoba salah satu fitur flagship itu, yakni bodi anti-air hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit. Dengan sertifikasi IP68, sebenarnya Galaxy S7 Edge mampu melakukannya, tapi rasanya hati masih berat untuk membiarkannya tercebur ke air.

Namun akhirnya, saya bisa mengalahkan diri sendiri untuk bermain-main dengan Galaxy S7 Edge di kolam renang. Setelah mencobanya untuk berfoto-foto, ternyata sensasinya biasa saja.

Apa sebabnya? Yang saya rasakan, berfoto di dalam air memakai salah satu ponsel termahal saat ini di pasaran itu punya tiga (atau empat) mudarat sebagai berikut ini:



1. Blur
Kamera depan Galaxy S7 Edge belum dilengkapi dengan autofocus. Alhasil, perlu beberapa kali percobaan memotret agar ketika mentas nanti, Anda bisa mendapatkan jepretan terbaik di dalam air.

Seringkali, foto saya tidak fokus. Mungkinkah HP itu tidak fokus karena melihat bulu ketiak saya melambai-lambai? Entahlah.




2. Mata merah
Foto di bawah air, terutama di kolam renang dengan kandungan kaporit tinggi, baiknya tidak membuka mata. Tidak apa-apa kalau hasil fotonya tidak terlalu aesthetic, yang penting pulang-pulang mata tidak merah atau perih, atau malah sampai ingin meneteskan satu galon obat mata ke dalam kolam renang tersebut agar airnya lebih "sehat".

3. "Kepencet"
Karena layar Galaxy S7 Edge semacam mendeteksi tekanan air sebagai sentuhan, maka bersikaplah biasa apabila smartphone mengambil gambar secara acak atau tiba-tiba.

Biar shutter tidak "kepencet" oleh permukaan air, saya menemukan cara tersendiri, yaitu memasukkan ponsel dengan aplikasi kamera yang sudah siap dari bagian punggung dulu. Nah, barulah di dalam air Anda bisa memosisikannya secara vertikal, lalu silakan jeprat-jepret sepuasnya (sampai 30 menit, klaimnya sih begitu tapi entah sampai 30 menit sungguhan atau tidak).



4. Susah cakep?
Kerap kali, sesi pemotretan underwater hasilnya tidak maksimal. Singkatnya, sedikit sekali jepretan yang mengabadikan momen ketika saya sedang tampan.

Mungkin poin ini tidak berlaku bagi Anda yang foto dari sudut mana pun cakep, tapi untuk yang standar-standar saja (dan cenderung minus rating-nya seperti saya), mending perhatikan beberapa faktor yang berpotensi menambah ketampanan atau kecantikan. Selain mata, rambut, ekspresi muka, dan gestur tubuh bisa jadi akan membuat Anda yang biasa-biasa saja di daratan menjadi lebih tampan di dalam air.

Kalau trik ini Anda terapkan, enggak usah kaget jikalau suatu hari nanti Anda diramalkan "lebih cocok kerja dan hidup di air terus menikah dengan putri duyung" daripada di darat mencoba cakep pakai filter dan editan ini-itu.

Ulwan Fakhri

Sempat pakai BenQ-Siemens EF51. Pernah berkontribusi untuk Techno.id (KapanLagi Networks) dan kini di Technologue.id.

No comments:

Post a Comment