Xiaomi dan hegemoni si miskin

Ilustrasi smartphone Xiaomi © Wikimedia / Ilya Plekhanov

Saya adalah seorang pengguna Xiaomi Redmi 2, smartphone pertama yang saya beli dari hasil kerja sendiri — sebelumnya, saya selalu memakai ponsel bekas mama saya atau patungan membeli baru dengan mama, lumayan tidak manja, kan? Namun, tetap saja, saya membeli Redmi 2 ini setahunan lalu ditemani sama mama.

“Apa, mas? Mau beli HP merek Siomay?” begitu respons mama terhadap ajakan saya waktu itu. True story.

Tulisan ini bukanlah sebuah serangan untuk pemakai Xiaomi, karena itu artinya saya malah menyerang diri sendiri, dong?

Lagian, ngapain menyerang pengguna Xiaomi?

Dengan banderol produk yang cukup terjangkau, saya yakin Xiaomi adalah pilihan yang oke bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk bagi remaja yang setahun lalu baru memegang duit bulanan setara UMK. Ya sudah, mau tidak mau, suka tidak suka, ya Xiaomi atau merek sekelasnya yang harus dibeli.

Namun sejak mengenal dan memakai produk Xiaomi, saya jadi cinta dengan merek ini. Selain karena branding-nya oranye — seperti warna favorit saya — Xiaomi berani memberi harga yang relatif murah untuk smartphone level mid-range, walau terpaksa mengorbankan bodi yang membuatnya terkesan semurah hadiah chiki.

Bentuk kecintaan saya pada Xiaomi ini juga berwujud pada munculnya rasa benci pada Samsung, perusahaan penjual smartphone kelas menengah yang overpriced itu. Jangan salah sangka dulu, saya tetap mau kok kalau dikasih gratis Galaxy S7. Lagian sejauh ini, belum ada smartphone yang saya rasa layak head-to-head dengan flagship itu dari segi desain. Tapi kalau saya diberi Samsung seri J atau A atau sebangsanya, iyuh, thanks. Mending kasih saya mentahnya saja buat bayar iuran BPJS.

Harga diri saya sebagai user sok tahu yang menjunjung fungsi ketimbang brand semata serasa terinjak.

Sedikit curhat, kesebalan saya sama Samsung ini mulai mengganggu, lho. Masa saya bisa tiba-tiba sebal sendiri ketika melihat orang yang sedang mengutak-atik HP Samsung kelas menengahnya di depan saya? Tak peduli apa model dan serinya karena saya tidak hafal dan tidak berniat menghafal variasinya yang sangat berlebihan itu, (mungkin sudah melebihi variasi gaya bercinta yang disarankan Kamasutra), saya benci ponsel Samsung kelas menengah.

Samsung, ayolah, cari uang halal dari jualan flagship sajalah. Please.

Kembali ke premis awal.

Kefanatikan saya terhadap Xiaomi juga makin erat ketika mengikuti akun berbau Xiaomi di Twitter. Saya pun mulai berani membanggakan kemampuan kameranya, yang beberapa teman saya bilang lumayan untuk harga di bawah Rp2 juta tetapi saya tidak bisa menggunakannya secara maksimal itu. Ini murni karena saya kurang berminat belajar mobile fotografi, ya. Sedari dulu pun saya tidak pernah beli HP yang unggul di kameranya, kok. Tolong dipahami bedanya tidak bisa memanfaatkan fitur dan malas belajar.

Yang terbaru, Xiaomi Redmi 2 saya bisa memainkan Pokémon Go. Asus Zenfone 2 dengan RAM 4GB berprosesor Intel milik sepupu saya hanya bisa termenung. Saya dengar, smartphone yang bodi belakangnya berlagak melengkung tetapi permukaannya masih cukup licin itu meratap lirih, “Ya Tuhan, mengapa aku berbeda? Mengapa aku tidak pakai Qualcomm yang juga cepat panas atau MediaTek yang murah dan seringkali tidak dicantumkan merek SoC-nya di HP low-end itu?”

Selang beberapa saat kemudian, Asus Zenfone 2 4GB itu ternyata ada gunanya. Ya, sebagai mobile hotspot untuk penunjang permainan Pokémon Go saya, tidak kurang tidak lebih.

Maka, ketika petinggi Xiaomi dengan bangga mengabarkan pihaknya sudah menjual 110 juta handset Redmi selama hampir tiga tahun atau setara 1 unit per detiknya di seluruh dunia, saya pun ikut senang.

Sayang, sejurus kemudian saya mulai sadar. Kalau di pasaran smartphone sekelas mid-range seperti seri Redmi begitu laku, ya berarti cuma ada dua kemungkinan. Pertama, populasi masyarakat menengah ke bawah di dunia sangat banyak. Alhasil daya belinya terbatas di Xiaomi-Xiaomi-an. Kedua, konsumen entry level sampai mid-range mulai sadar ada opsi produk lain di samping Samsung.

Masalahnya… sampai kapan kita-kita pakai Xiaomi saat vendor lain mulai dan sudah menyediakan produk berfitur masa depan? Ada yang mau memberi saya gaji tambahan, mungkin?

Ulwan Fakhri

Sempat pakai BenQ-Siemens EF51. Pernah berkontribusi untuk Techno.id (KapanLagi Networks) dan kini di Technologue.id.

No comments:

Post a Comment