Khianati "Gen" Berkat Prelo

Prelo Seller Gathering © Ulwan Fakhri


Banyak orang Indonesia yang percaya bahwa nenek moyang mereka adalah pelaut, ahli agama, hingga pedagang yang hebat. Namun, saya sendiri lebih percaya bahwa garis keturunan saya adalah konsumen yang jago.

Alasannya sederhana. Keluarga besar saya, baik yang dari garis bapak atau mama, enggak ada satu pun yang berdagang "for lyfe". Kebanyakan mereka berprofesi sebagai guru, pegawai negeri, atau pegawai swasta. Makanya, saya yakin "darah" pedagang saya nihil.

Tapi, satu lembaran baru dalam hidup saya tiba ketika keisengan menuntun saya mencoba mendaftar ke Prelo.co.id. Berawal dari keresahan di dalam kamar setelah melihat beberapa buku yang tak saya kehendaki lagi kehadirannya (juga dompet yang sedang menipis), saya mengunduh aplikasi Prelo dan memutuskan menjual sebuah buku saya di sana.

Eh, ternyata laku.

Buku kedua saya jual. Laku juga.

Akun saya di https://prelo.co.id/ulwan


Walaupun jual rugi - ya namanya barang preloved dan tak langka-langka amat, wajar kalau harganya di bawah banderol aslinya, kan? - saya tetap senang. Sebab, akhirnya saya membuktikan diri bisa menjadi penjual, tanpa pengalaman berjualan sebelumnya, tanpa "gen pedagang" pula. Ini berkat Prelo.

Lebih dari setahun setelah saya pertama kali mendaftar sebagai member Prelo, awal Juli 2017 saya menerima broadcast dari akun resmi Prelo di Line. Bahwasannya, startup asal Bandung itu berencana untuk menghelat Seller Gathering di Kota Malang, tepatnya pada hari Sabtu, 22 Juli 2017.

"Akhirnya," saya membatin. "Bisa belajar dari para mitra sukses Prelo di Malang sekalian curi info dari 'orang dalam' langsung, nih."

Sesuai informasi dihelatnya #PreloMalangSellerGathering, sekitar pukul 10.00 pagi saya sudah tiba di Golden Heritage Koffie. Datang-datang, tote bag beserta bingkisan Prelo sudah menunggu saya dan hadirin lain, plus daftar menu yang bisa saya pilih untuk makan siang.

Mantap.

Namun, ekspektasi saya sedikit meleset. Soalnya, sebagian dari peserta Seller Gathering Malang adalah mereka yang sudah "matang". Misalnya, ada seorang bapak yang doyan melego barang second impornya karena beliau pernah lama bekerja di Jepang, ada juga ibu muda yang menjual peralatan dan aksesori bayi.

Saya kira, seller Prelo Malang banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa, yang mungkin menjual barang preloved untuk bertahan hidup di akhir bulan. Ah, ternyata cuma saya sendirian yang seperti itu hehehe.

Pesertanya tak membludak, tapi justru begini yang nikmat. Diskusi intim seperti ini yang saya harapkan terjadi agar para penjaja barang yang pernah jadi favoritnya bisa menyerap banyak informasi dan ilmu langsung dari tim Prelo.

Annisa Dewi membeberkan big data Prelo di Seller Gathering Malang

Dari penjelasan kak Annisa Dewi, Business Development Executive Prelo, saya jadi paham bahwa e-commerce yang launching di bulan November 2015 itu tidak murahan, walaupun "melabeli" diri sebagai toko barang bekas. Pasalnya, Prelo senantiasa menjamin dagangan di platformnya adalah barang orisinal. Mereka pun tak ragu untuk me-reject barang seller apabila terbukti tidak orisinal atau KW.

Satu ilmu yang penting menurut saya adalah trik agar barang dagangan kita bisa masuk ke Editor's Pick Prelo dan dilihat langsung oleh puluhan ribu pengguna aplikasi yang bisa diinstal di iOS dan Android itu. Untuk bisa melakukannya tidaklah gampang. Bahkan, sekalipun dagangan kita amat menarik (bagi kita), orisinal, dan terjangkau harganya, itu bukanlah jaminan untuk selalu bisa meluluhkan hati tim kurator Prelo. Dibutuhkan spesifikasi lain seperti foto yang beresolusi tinggi dan jelas, informasi penunjang yang lengkap, plus kejelian kita untuk mengungganya di momen-momen tertentu.

Menu makan siang pilihan saya saat #PreloMalangSellerGathering di Kafe Golden Heritage


Selepas sesi presentasi dan sharing alias makan siang (yum!), tim Prelo juga menyempatkan diri untuk mengobrol santai dengan para seller. Mulai sekadar sharing bagaimana beda plus serupanya Bandung dan Malang sampai bagaimana budaya kerja di Prelo sendiri.

Seller Gathering Prelo saya rasa lebih sekadar mengumpulkan para penjaja barang second. Event ini juga menjadi wadah yang pas untuk saling belajar menjadi saudagar sukses di era digital dan internet hingga value sharing dari para penghuni salah satu startup potensial di Indonesia secara langsung. Jadi, sempatkan untuk berpartisipasi di Seller Gathering Prelo jika mampir di kota Anda. Kabarnya, acara seperti ini akan terus dilangsungkan di beberapa kota di Indonesia sampai kalender 2017 ditutup nanti.

Ulwan Fakhri

Sempat pakai BenQ-Siemens EF51. Pernah berkontribusi untuk Techno.id (KapanLagi Networks) dan kini di Technologue.id.

No comments:

Post a Comment