Si Bego Beli Buku di Play Store

Konten Google Play © Google

Saya tipe orang yang boros untuk buku. Hal baik? Belum tentu, sebab saya jadi susah kaya dan ada setumpuk buku di kamar yang belum terbaca karena keseringan menambah koleksi.

Attitude buruk yang mungkin layak diapresiasi Gutenberg karena membuatnya merasa tak sia-sia menciptakan mesin printing ini diperparah karena saya tipe pembaca yang sangat selektif. Misalnya, cuma mau baca buku yang relevan dengan kehidupan sekarang. Tapi belum sampai momen itu tiba dalam hidup, sudah sok membeli buku "panduannya" dulu.

Ini yang membuat saya belum membaca buku komedi tentang kehidupan lucu pasangan suami istri baru, karena saya belum menikah dan ya, saya berencana membacanya nanti saat hendak atau di awal menikah. Padahal, buku itu sudah dituntaskan teman kuliah saya yang meminjamnya dan katanya, bukunya komikal banget, cocok untuk saya (bahkan mungkin buku itu lebih lucu dari jokes-jokes saya selama berinteraksi dengannya) (oh apa dia menyuruh saya belajar bikin jokes bagus dari buku itu?) (hm).

Mungkin, ini juga yang membuat saya tak membaca fiksi seperti Star Wars, karena saya masih hidup menumpang di rumah saudara, belum pernah tinggal di rumah saudara saya yang terletak di luar angkasa.

Baiklah, mari kita mulai masuk ke pembahasan si bego belanja e-book.

Seakan tahu dengan kebiasaan saya ini, entah dari memantau GPS handset Android saya yang kerap mandek di komplek buku bekas atau mereka pernah memata-matai saya di kamar yang sering kebingungan mencari suatu buku yang ternyata masuk ke kolong kasur karena saya jatuhkan secara tidak sengaja saat tidur, Google memberi tawaran menarik belum lama ini.

Lewat Plat Store-nya, perusahaan yang "mengkerdilkan diri" dengan bikin perusahaan induk Alphabet Inc. itu menawarkan diskon 75 persen tiap pembelian buku di etalase mayanya itu, baik untuk buku karya penulis lokal maupun luar. Walaupun tidak semua buku yang ada di sana ter-cover promo ini, hanya berlaku bagi sebagian user, dan cuma bisa dipakai sekali, saya berkomitmen untuk tak menyia-nyiakannya. Anda pemakai Android silakan cek Play Store Anda dan cari notifikasi seperti ini.

 
Mumpung e-book kalau tidak dibaca tidak menumpuk di kamar dan membuat saya menyesali betapa boros hidup saya ini, saya pikir.

Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk membeli buku untuk tambahan literatur tugas akhir saya tentang komedi. Sudah saya sortir sejak lama. Jumlahnya tak lebih dari 10, tapi bagus-bagus semua, sehingga membuat saya perlu menimbang-nimbang lagi memakai insting yang mungkin tak dimiliki Ayu Ting-Ting.

Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Standing Up, Speaking Out: Stand-Up Comedy and the Rhetoric of Social Change terbitan Rouletdge. Didapat dengan harga Rp154.320 saja, banderol asli untuk buku yang saya yakini versi fisiknya punya semerbak bau-bau kapitalisme ini adalah Rp462.958.




Saya merasa menang, menggagahi si kapitalis ilmu.

Akan tetapi, proses pembelian saya tak berlangsung mulus. Penyebabnya saya jelaskan lewat kronologi berikut ini.

Setelah menemukan buku incaran saya, tombol "Buy" langsung saya sentuh. Memasukkan password email pun saya lakukan dengan benar. Sinyal dan internet juga lancar.

Pulsa pun sudah saya siapkan sebelumnya, detailnya Rp156.060. Secara matematis sederhana, ketika saya membeli buku tersebut dengan harga yang tertera, yakni Rp154.320, maka saya punya kembalian Rp1.500 lebih.

Namun faktanya, saya malah mendapati notifikasi ini.



Pembelian gagal.

Yang saya tidak waspadai ternyata ada PPn dan Bea Jasa yang harus dibayar di luar harga buku itu, yakni sebesar Rp18.518. Besarnya 12 persen dari harga barang.






Setelah menambah stok pulsa, barulah buku tersebut bisa saya terima. Total yang saya habiskan membengkak, jadi Rp172.838.

Masih merasa menangkah saya? Lumayan. Merasa begokah saya? Ya. Karena sebelumnya saya sebenarnya pernah membeli buku juga di Google Play Book. Namun, saya lupa. Mana terlajur komplain ke Indosat lagi hehehe.

Jadi, silakan manfaatkan promo dari Google ini sampai 30 September 2017 mendatang. Tapi jangan lupa perhitungan pajak dan bea jasanya agar rantai kebodohan pembeli bisa berhenti di saya saja.

Ulwan Fakhri

Sempat pakai BenQ-Siemens EF51. Pernah berkontribusi untuk Techno.id (KapanLagi Networks) dan kini di Technologue.id.

No comments:

Post a Comment