Instagram bantu saya meramal


Ilustrasi Instagram © negativespace.co
Horor yang disebar di tengah-tengah masyarakat bahwa perusahaan teknologi sedang membuntuti kehidupan kita sangat sangat benar dan nyata. Entah akan seperti apa kalau misalnya Larry Page dan Sergey Brin atau Mark Zuckerberg benar-benar ingin menguasai dunia, lalu mereka berusaha membuktikan diri jadi yang terbaik melalui perang. Bukan tidak mungkin, senjata yang bakalan mereka pakai untuk saling menyakiti lawan adalah bom berisi data netizen sedunia.

Saking banyaknya informasi pribadi penduduk Bumi yang berhasil mereka kumpulkan.

Jadi ingat, semasa kuliah dulu saya punya teman yang 100 persen manusia tapi masih setengah netizen. Si cewek yang parasnya lumayan imut itu memang punya WhatsApp, kami bahkan pernah ngobrol hal basi sampai tugas kuliah via aplikasi itu. Tapi, dia enggak punya Facebook, Twitter, apalagi Path yang di zaman itu amat menjamur.

Ingat banget karena saya dan beberapa teman cowok pernah mencoba stalking dia supaya ada bahan obrolan untuk flirting, tapi hasilnya nihil.

Enggak tahu juga sih dia secara sadar menjauhkan diri dari dunia digital atau sekadar malas merespons permintaan pertemanan dan chat para cowok yang mengajak berkenalan. Apa pun motivasinya, saya salut.

Sayang, seingat saya mendekati lulus kuliah dia mulai bikin Facebook. Satu manusia lagi yang terjerembab ke jurang big data bikinan perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Semoga datamu tenang di sana. Rest in peace.

Big data dari perusahaan TIK ini memang ngeri kalau dilihat-lihat. Contohnya, saat kita barusan selesai window shopping baju atau tas di e-commerce, eh pas buka situs lainnya iklan produk yang sempat kita klik tadi muncul. Godaan banget, apalagi kalau tadi niat kita untuk window shopping didasari fakta bahwa sebenarnya kita punya duit buat belanja.

Satu hal ngeri lagi yang saya temukan adalah dari Instagram. Rilis pers yang mereka kirimkan ke saya pada Rabu, 2 Agustus 2017, intinya memang mengabarkan bahwa fitur Stories telah genap berusia setahun. Namun, mereka juga turut melampirkan data-data terkait penggunaan fitur colongan dari Snapchat tersebut.

Di sini saya takjub. Instagram dan lagi-lagi kerajaannya Mark Zuckerberg, Facebook Inc., sampai tahu loh pen yang paling sering kita pakai saat mengedit foto untuk diunggah di Stories. Begini salah satu hasil temuan mereka.

Pen tool terpopuler di Instagram Stories. Silakan berkata "Wow". © Ulwan Fakhri



Buset, sampai penggunaan pen saja kita dipantau! Makanya, jangan salahkan atau menganggap saya terlalu drama kalau saya pernah berpikir alien tak perlu menghancurkan Bumi untuk menguasai manusia. Cukup hack data dari Facebook, Google, Apple, atau Microsoft, lalu kontrol manusia dari gadget dan media sosialnya.

Baik, saya sengaja biarkan prediksi saya tentang masa depan manusia dan alien mendekati paragraf terakhir di artikel ini, biar kalau prediksi ini benar, netizen di masa depan bakal menemukan tulisan ini lalu meyetarakan saya dengan Marshall McLuhan.

Ulwan Fakhri

Sempat pakai BenQ-Siemens EF51. Pernah berkontribusi untuk Techno.id (KapanLagi Networks) dan kini di Technologue.id.

No comments:

Post a Comment