Skip to main content

Posts

Yth. MUI, Tolong Haramkan Juga PES dan FIFA

PES 2019 © Konami Sebagai garda terdepan penjaga umat dari kemudharatan dan godaan duniawi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil langkah yang memang diperlukan. Sembari terus menggodok wacana mengharamkan PUBG secara nasional yang mulanya dicetuskan oleh MUI Jawa Barat, kini MUI pusat juga berwacana menerbitkan fatwa untuk game-game berdampak negatif lain bagi umat. Kalau rencana ini terlaksana dengan lancar, maka tak lama lagi kita bakal mendapati daftar game-game mana saja yang tidak boleh dan boleh dimainkan karena membuat kita secerdas Maudy Ayunda sekaligus sealim para buzzer surga di medsos . Dalam rangka mengawal program ini agar sesuai kemaslahatan umat, saya selaku gamer paruh waktu dan perindu mbaknya purnawaktu tak ingin ketinggalan memberikan sumbangsih. Siapa tahu sokongan intelektual saya ini kelak bisa meringankan dosa-dosa saya karena sering meninggalkan salat saat asyik bermain game, kan? Siapa tahu. Buat umat lho ini. Ulama-ulama MUI yang saya hormati dan ...

Qoo10 dan Kekecewaan

Logo Qoo10 © blog.qoo10.sg Sekarang semua orang belanja online, bahkan mereka yang tidak tahu mau beli apa tapi karena saking mudahnya (dan pas ada duit) pun melakukannya. Contohnya enggak usah jauh-jauh: saya. Terus terang saja, 2017 ini jadi masa tertinggi saya dalam aktivitas online shopping. Alasannya apa? Ya itu tadi, gampang dan kebetulan ada duit. Oh iya, dan pas ada promo. Kalau enggak murah-murah banget sebenarnya saya juga enggak minat belanja online, sih. Masyarakat menengah bersatu tak bisa dikalahkan! Dari Shopee, Bukalapak, Matahari Store, Aliexpress, hingga - yang agak khayal - Qoo10, sudah pernah saya coba. Kenapa menurut saya Qoo10 khayal? Pertama, platform ini kebanyakan diisi oleh produk fashion wanita. Kedua, porsi produk yang dijual dan dikirimkan dari luar negeri cukup besar, sehingga ongkos kirimnya bisa membengkak kalau tidak ada simbol "bebas biaya pengiriman"-nya (walau terkadang, di daftar pencarian tulisannya gratis ongkir tetapi waktu d...

Instagram bantu saya meramal

Ilustrasi Instagram © negativespace.co Horor yang disebar di tengah-tengah masyarakat bahwa perusahaan teknologi sedang membuntuti kehidupan kita sangat sangat benar dan nyata. Entah akan seperti apa kalau misalnya Larry Page dan Sergey Brin atau Mark Zuckerberg benar-benar ingin menguasai dunia, lalu mereka berusaha membuktikan diri jadi yang terbaik melalui perang. Bukan tidak mungkin, senjata yang bakalan mereka pakai untuk saling menyakiti lawan adalah bom berisi data netizen sedunia. Saking banyaknya informasi pribadi penduduk Bumi yang berhasil mereka kumpulkan. Jadi ingat, semasa kuliah dulu saya punya teman yang 100 persen manusia tapi masih setengah netizen. Si cewek yang parasnya lumayan imut itu memang punya WhatsApp, kami bahkan pernah ngobrol hal basi sampai tugas kuliah via aplikasi itu. Tapi, dia enggak punya Facebook, Twitter, apalagi Path yang di zaman itu amat menjamur. Ingat banget karena saya dan beberapa teman cowok pernah mencoba stalking dia supaya ada...

Khianati "Gen" Berkat Prelo

Prelo Seller Gathering © Ulwan Fakhri Banyak orang Indonesia yang percaya bahwa nenek moyang mereka adalah pelaut, ahli agama, hingga pedagang yang hebat. Namun, saya sendiri lebih percaya bahwa garis keturunan saya adalah konsumen yang jago. Alasannya sederhana. Keluarga besar saya, baik yang dari garis bapak atau mama, enggak ada satu pun yang berdagang "for lyfe". Kebanyakan mereka berprofesi sebagai guru, pegawai negeri, atau pegawai swasta. Makanya, saya yakin "darah" pedagang saya nihil. Tapi, satu lembaran baru dalam hidup saya tiba ketika keisengan menuntun saya mencoba mendaftar ke Prelo.co.id . Berawal dari keresahan di dalam kamar setelah melihat beberapa buku yang tak saya kehendaki lagi kehadirannya (juga dompet yang sedang menipis), saya mengunduh aplikasi Prelo dan memutuskan menjual sebuah buku saya di sana. Eh, ternyata laku. Buku kedua saya jual. Laku juga. Akun saya di https://prelo.co.id/ulwan Walaupun jual rugi - ya namanya...

Si Bego Beli Buku di Play Store

Konten Google Play © Google Saya tipe orang yang boros untuk buku. Hal baik? Belum tentu, sebab saya jadi susah kaya dan ada setumpuk buku di kamar yang belum terbaca karena keseringan menambah koleksi. Attitude buruk yang mungkin layak diapresiasi Gutenberg karena membuatnya merasa tak sia-sia menciptakan mesin printing ini diperparah karena saya tipe pembaca yang sangat selektif. Misalnya, cuma mau baca buku yang relevan dengan kehidupan sekarang. Tapi belum sampai momen itu tiba dalam hidup, sudah sok membeli buku "panduannya" dulu. Ini yang membuat saya belum membaca buku komedi tentang kehidupan lucu pasangan suami istri baru, karena saya belum menikah dan ya, saya berencana membacanya nanti saat hendak atau di awal menikah. Padahal, buku itu sudah dituntaskan teman kuliah saya yang meminjamnya dan katanya, bukunya komikal banget, cocok untuk saya (bahkan mungkin buku itu lebih lucu dari jokes-jokes saya selama berinteraksi dengannya) (oh apa dia menyuru...

Foto bawah air pakai HP mahal, rugi

Foto di bawah air menggunakan Samsung Galaxy S7 Edge © Ulwan Fakhri Sepanjang hidup saya yang masih relatif singkat ini, saya sebenarnya jarang sekali memiliki dan/atau menggunakan ponsel flagship. Alasannya sederhana: kurang mampu secara finansial. Maka dari itu, sekalinya saya pegang Samsung Galaxy S7 Edge, hati sering tidak tenang. Rasanya, tanggung jawab untuk menjaganya besar sekali. Bagaimana kalau nanti ada fungsi yang rusak seperti BenQ-Siemens EF51 saya? Atau bodinya cacat layaknya ponsel flip Samsung CDMA merah marun yang gahar itu? Atau malah menghambat rezeki berupa pacar seperti Nokia 6610 saya dulu yang entah mengapa tidak bisa dipasangi aplikasi Mxit, sehingga saya kesusahan cari pacar saat SMA? Beban masa lalu inilah yang membuat saya sempat ragu untuk mencoba salah satu fitur flagship itu, yakni bodi anti-air hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit. Dengan sertifikasi IP68, sebenarnya Galaxy S7 Edge mampu melakukannya, tapi rasanya hati masih berat untuk ...

Malas berteman sama Bos Facebook

Mark Zuckerberg © Facebook Walaupun bukan pengguna aktif Facebook — atau detailnya, sempat menghapus akun lama saya sendiri dan membuat akun baru cuma demi bisa login ke sejumlah apps dan situs medioker secara cepat, saya begitu mengagumi Mark Zuckerberg. Selain menjadi inspirasi orang kebanyakan, karena walau tidak tuntas mengenyam pendidikan tinggi tetapi bisa menjadi orang terkenal di dunia dan kaya raya, saya suka caranya berkembang dan berinovasi. Facebook yang dulu hanya situs pemersatu mahasiswa Harvard yang diadopsi dari ide orang lain kini sudah merambah teknologi yang lebih kompleks, seperti virtual reality hingga artificial intelligence. Lucunya, saya tidak berniat hidup bersama Zuck di dunia nyata. Bukan satu atap atau bahkan satu kasur lho ya, tetapi hidup sebagai teman. Bukan, sekali lagi saya bukan anti-Yahudi. Saya cuma merasa tidak cocok berinteraksi dengan pria berambut kriwil yang tampak kaku itu. Saya tegaskan lagi, saya tidak berniat ...

Xiaomi dan hegemoni si miskin

Ilustrasi smartphone Xiaomi © Wikimedia / Ilya Plekhanov Saya adalah seorang pengguna Xiaomi Redmi 2, smartphone pertama yang saya beli dari hasil kerja sendiri — sebelumnya, saya selalu memakai ponsel bekas mama saya atau patungan membeli baru dengan mama, lumayan tidak manja, kan? Namun, tetap saja, saya membeli Redmi 2 ini setahunan lalu ditemani sama mama. “Apa, mas? Mau beli HP merek Siomay?” begitu respons mama terhadap ajakan saya waktu itu. True story. Tulisan ini bukanlah sebuah serangan untuk pemakai Xiaomi, karena itu artinya saya malah menyerang diri sendiri, dong? Lagian, ngapain menyerang pengguna Xiaomi? Dengan banderol produk yang cukup terjangkau, saya yakin Xiaomi adalah pilihan yang oke bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk bagi remaja yang setahun lalu baru memegang duit bulanan setara UMK. Ya sudah, mau tidak mau, suka tidak suka, ya Xiaomi atau merek sekelasnya yang harus dibeli. Namun sejak mengenal dan memakai produk Xiaomi, saya jadi ...

Zuck di-hack, ini konspirasi Yahudi!

Mark Zuckerberg © Facebook Diretasnya akun LinkedIn, Twitter, dan Pinterest pribadi Mark Zuckerberg beberapa waktu lalu menjadi kasus yang menghentak. Pasalnya, publik kembali disadarkan bahwa pengguna internet sekelas CEO Facebook pun tak luput dari nakalnya penjahat cyber. Ada yang menyebut OurMine Team , hacker yang mengaku bertanggung jawab atas bobolnya tiga akun Zuck itu, adalah yang jago. Akan tetapi, tak sedikit pula yang menyalahkan kecerobohan mahasiswa drop-out Harvard University tersebut dalam memilih password. Argumen yang berakar terhadap kesalahan mendasar Zuck sebagai netizen inilah yang banyak dipercaya oleh para netizen cerdas. Alasannya begini, pertama, bapak satu orang anak itu memilih kata sandi yang terlalu mudah (untuk diingat sekaligus diretas) — bahkan tanpa satu kombinasi angka, simbol, atau huruf kapital pun, yakni ‘dadada’. Padahal saat dites dengan dimasukkan ke kolom password jejaring sosial buatannya sendiri, ‘dadada’ diidentifikasi sebagai kata ...